Curug Sidomba Kuningan

Curug Sidomba Kuningan - Curug Sidomba terletak di Obyek Wisata Bumi Perkemahan Sidomba di bawah kaki Gunung Ciremai.  Asal muasal curug ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 2002 oleh beberapa siswa SMP Islam Terpadu Umar Sjarifudin (ITUS) Kuningan yang sedang melakukan hiking menyusuri sungai di lereng Gunung Ciremai.

Curug Sidomba ini memiliki ketinggian sekitar 3 m.  Adapun nama Sidomba sendiri, menurut cerita masyarakat, konon dulu tempat ini merupakan tempat memandikan domba. Selain itu, hutan di sekitar curug merupakan pangngonan  (tempat penggembalaan) domba.
   
Lokasi

Terletak di Desa Peusing, Kecamatan Jalaksana, Kabupaten Kuningan, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS: 6° 54' 6.79" S  108° 28' 32.06" E atau 6° 53' 42.33" S  108° 27' 51.04" E    

Aksesbilitas

Berjarak tempuh 20 km dari Kota Cirebon atau 30 menit dari kota Kuningan. Jika dari arah kota Cirebon menuju Kuningan dengan mengambil arah ke kanan di tiga jalur alternatif, yaitu di Prapatan Bandorasa Wetan, Balai Desa Manis Lor atau Balai Desa Manis Kidul lewat Desa Sembawa dan Desa Peusing.

Bagi yang menggunakan angkitan umum, dari arah kota Cirebon naik kendaraan umum elf/bus ke jurusan Kuningan, berhenti di Desa Manis Lor dan dilanjutkan naik angkutan roda dua.  Jika dari arah kota Tasikmalaya atau Cikijing naik kendaraan elf/bus jurusan Cirebon lewat terminal Cirendang, berhenti di Desa Manis Lor dan dilanjutkan naik angkutan roda dua.

Setiba di pintu masuk perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 300 m melewati jalan tangga yang bersemen dengan pegangan disisinya.  Kondisi jalan tangga ini menurun cukup curam.

Tiket dan Parkir

Harga tiket masuk adalah Rp 5000 untuk dewasa dan Rp 3500 untuk anak-anak, sedangkan tiket parkir Rp 1500 untuk kendaraan roda empat dan Rp 1000 untuk kendaraan roda dua.

Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas yang tersedia cukup lengkap seperti camping ground, sarana olahraga, sarana bermain dan beberapa saung untuk bersantai.  Juga terdapat kolam ikan di bawah air terjun ini. Di kolam tersebuti banyak berisi jenis ikan Kancra Emas dan Kancra Bodas yang dilarang keras untuk dipancing dan diberi makan.

Curug Lalay Bandung

Curug Lalay Bandung - Curug Lalay adalah rangkain akhir dari beberapa curug yang mengalir dari Sungai Cimahi.  Jika diurut dari hulu ke hilir, beberapa curug tersebut adalah Curug Putri Layung, Curug Tilu, Curug Bugbrug, Curug Cimahi, Curug Panganten, dan Curug Lalay.  Sumber mata air kelima curug tersebut beradal dari lereng Gunung Tangkuban Perahu yang berketinggian sekitar 1800 m dpl.
Curug ini memiliki ketinggian sekitar 30 m saja dan tersembunyi di lembah.  Di sisi kiri curug terdapat sebuah cerukan yang menyerupai goa, dimana di dinding goa ini banyak terdapat hewan Lalay yang berarti kelelawar dalam bahasa sunda, yang mana nama tersebut diambil.
Lokasi

Terletak di Desa Bonggol, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi, Propinsi Jawa Barat.

Aksesbilitas

Untuk menuju ke lokasi ini tidak lah mudah karena curug ini tidak seterkenal curug yang lain dan jarang dikunjungi. Selain akses jalan menuju kesana minim, juga tidak adanya papan penunjuk.  Satu-satunya penanda yang bisa diandalkan adalah plang Madrasah Ibtidaiyah Cisasawi, Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong.  Selain itu dianjurkan untuk banyak  bertanya pada penduduk setempat keberadaan curug tersebut.

Kondisi jalan menuju kesana hanya dengan berjalan kaki melewati kebun penduduk, menyusuri sungai dan naik turun bukit dan lembah.

Bila perjalanan dari kota Cimahi di Terminal pasar Atas naik angkot berwarna kuning jurusan Pasar Atas - Ciuyah.  Turun sebelum kantor lurah Ciutah, Citeureup Cimahi Utara dengan ongkos Rp 2500.  Selanjutnya perjalanan diteruskan dengan berjlan kaki melewati jalan setapak yang di sisi kiri-kanannya adalah persawahan dan kebun sayuran hingga bertemu aliran sungai dan pintu air.  Dari pintu air ini ikuti jalan saja ke arah hulu hingga mentok ke Curug Lalay berada,  Waktu tempuh sekitar 1,5 jam

Tiket dan Parkir

Tiket ada pungutan restribusi untuk masuk ke lokasi ini. 
 
Sumber  : https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-lalay---bandung-barat
 

Curuh Luhur Bandung

Curuh Luhur Bandung

Lokasi

Terletak di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat

Peta dan Koordinat GPS :  6° 48' 5.97" S  107° 42' 26.86" E  
Aksesbilitas
Jika dari Lembang ambil jalan ke arah Maribaya menuju ke arah Cibodas.  Setelah Maribaya dilanjutkan keatasnya lagi ke arah Bukit Tunggul.  Sesampainya di terminal belok kiri dan disanalah lokasi Curug Luhur berada. 

Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-luhur---bandung-barat

Curug Malela Bandung

Curug Malela Bandung - Curug Malela Bandung memiliki ketinggian sekitar 60-70 m dan lebar 50 m dengan hulu sungai berasal dari lereng utara Gunung Kendeng yang nantinya mengalir membentuk jaringan sungai Cidadap dan bermuara ke Cisokan.  Airnya sangat deras dan bila sedang beruntung kita dapat menyaksikan ratusan ekor monyet ekor panjang (macaca pasciscularis) sedang minum air di bawah Curug Malela.

Curug Malela merupakan air terjun paling atas dari rangkaian tujuh air terjun sepanjang 1 km.  Urutannya adalah Curug Malela, Curug Katumiri, Curug Manglid, Curug Ngebul, Curug Sumpel, Curug Palisir dan ditutup dengan Curug Pameungpeuk.  Semua terletak di desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat.

Setiap air terjun tersebut memiliki kekhasan tersendiri.  Curug Malela memiliki air terjun yang terpisah saat jatuh dengan 5 jalur yang ada.  Curug Katumiri pada pukul 8-9 bisa memperlihatkan pelangi di badan air terjun.  Curug Ngebul adalah kebalikan dari Curug Malela, yaitu air yang jatuh justru berkumpul sehingga menimbulkan efek kabut dan suara yang menggelegar.

Curug Manglid memiliki goa di belakang air terjunnya.  Curug Sumpel memiliki daerah di bawah air terjun yang lebar meski terlihat sempit dari kejauhan.  Curug Palisir mirip Curug Malela meski dengan ketinggian yang lebih rendah.  Terakhir, Curug Pameungpeuk adalah air terjun dengan muara antara Sungai Cidadap dan Cisoka yang terletak tidak jauh dari air terjunnya.

Sebenarnya di kawasan ini (Kecamatan Rongga masih ada beberapa curug yang indah dan layak dikunjungi. Seperti Curug Buana, Curug Cilinggapayung dan Curug Nyandung.  Sayangnya untuk mencapai kedua tempat itu harus melalui medan yang berat dan rusak.
   
Lokasi

Terletak di perbatasan dengan Kabupaten Cianjur tepatnya di Kampung Manglid, Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS:  7° 00' 38.01" S  107° 12' 22.00" E

Aksesbilitas

Ada dua jalur untuk mencapai Curug Malela ini, yaitu jalur melalui Sukabumi atau Cianjur, dan jalur dari Bandung atau Cimahi yang umumnya diambil karena mudah.

Jika perjalanan dari kota Cimahi waktu yang dibutuhkan untuk mencapai curug sekitar 3 jam an.  Dari Cimahi perjalanan melalui daerah Batujajar, lalu kota Kecamatan Cihamelas dan Cililin.  Jalan yang dilalui umumnya berkelok namun kondisinya mulus.  Setelah melewati Cililin, selanjutnya memasuki kota Kecamatan Sindangkerta, Bunijaya, Gunung Halu, dan perkebunan teh Rongga.

Selepas dari Kota Kecamatan Rongga, sekitar 8 km dari lokasi curug,  Kondisi jalan berubah menjadi berbatu dengan tanjakan curam.  Memasuki Desa Cicadas, untuk menuju lokasi curug tidak ada papan penunjuk arah.

Setelah memarkir kendaraan di kampung terakhir, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki dengan jarak kurang lebih 2 km.  Jalan yang dilalui adalah jalan setapak dengan kontur naik turn.

Bila menggunakan kendaraan umum dari Bandung, perjalanan bisa dimulai dari Terminal Ciroyom menggunakan bis antar kota dengan rute menuju Buni jaya yang melewati Ciroyom, Cililin, Sindang Kerta, Gunung Halu dan Rongga dengan waktu tempuh sekitar 3-4 jam. Atau dari Terminal Leuwi Panjang menggunakan bis dengan jurusan Cimahi atau Cililn, kemudian lanjutkan dengan angkot ke Bunijaya.

Tiba diterminal Bunijaya perjalanan dilanjutkan ke Desa Cicadas dengan menggunakan ojek sejauh kurang lebih 12 km menyusuri tebing dan jurang dengan kondisi jalan yang berbatu (off road) dan berliku-liku penuh dengan tikungan tajam.  Ongkos Ojek hingga ke Desa Cicadas ini sebesar Rp 4000 untuk sekali antar.

Setelah itu dari pinggiran Desa Cicadas dilanjutkan dengan berjalan kaki 3 - 4  km melalui jalan setapak membelah hutan, menyusur sawah dan beberapa turunan yang curam bahkan menyisir jurang.

parkir mobil yang berjarak sekitar 2 km dari lokasi Curug atau sekitar satu jam. .

Tiket dan Parkir

Akomodasi


Jika mau pergi menggunakan angkutan umum bisa naik bis dari terminal Ciroyom:   Yaitu dengan mengambil jurusan Leuwi Panjang-Cijenuk dan turun dipertigaan Cijenuk Bunijaya, kemudian naik angkutan pedesaan yang hanya sedikit jumlahnya serta dilanjutkan dengan naik ojek hinggan ke Kampung Manglid. Kondisi Jalanan berkelok dengan kondisi jalan yang rusak bahkan tidak beraspal, berbatu dan licin namun pemandangan indah selalu ditemui sepanjang jalan.  Habis itu jalan kaki lintas alam sekitar 3 km

Curug Malela masih dikatakan perawan atau belum terjamah. Kenapa demikian? Bayangin aja, jalanan masih tanah dan batu, belum ada tanda petunjuk tuk sampai ke Curug, serta belum ada retribusi tuk tempat wisatanya. Hanya berbekal banyak tanya dan meminta  penduduk tuk menuju lokasi.

Perjalanan menggunakan kendaraan hanya sampai di hutan pinus saja, kami melanjutkan dengan trekking menurun selama 30 menit melewati jalan setapak yang masih baru. Begitu kami turun dari mobil, kami bertemu dengan penduduk yang sedang memperlebar jalan setapak menuju lokasi curug. Melewati semak belukar yang tinggi,  jurang, serta sawah tadah hujan milik penduduk setempat, akhirnya dari kejauhan kami sudah mendengar gemuruh suara air terjun Curug Malela.

Untuk berkunjung ke lokasi itu sangat mudah. Begitu tiba di Desa Cicadas, sudah ada warga setempat yang bersedia memandu Anda menuju ke lokasi air terjun.

Meski potensinya luar biasa, infrastruktur yang dimiliki masih sangat minim. Badan jalan cukup sempit. Bahkan, tidak satu pun papan petunjuk terpasang guna memandu pengunjung menuju Curug Malela. Papan penunjuk arah hanya ada di Desa Cicadas. Padahal, dari kantor desa setempat menuju lokasi wisata masih 3 kilometer lagi.

"Pada akhir pekan atau saat liburan, halaman kantor desa itu disulap menjadi tempat parkir bagi kendaraan roda empat yang dipakai para pengunjung," tutur Nugraha, pemandu wisata di lokasi air terjun.

Adapun pengguna sepeda motor masih bisa menempuh jalan sejauh 2 kilometer dari kantor desa melalui jalan di tengah lahan Perhutani. Badan jalan itu memiliki lebar 1 meter.

Sekitar 1 kilometer dari lokasi air terjun, sepeda motor harus diparkir pada tempat yang sudah disediakan. Jalan yang ada tidak dimungkinkan lagi untuk dilewati sepeda motor.

Dari sana, Anda harus berjalan kaki sejauh sekitar 1 kilometer. Namun, kondisi udara kawasan itu sangat bersih dan sejuk sehingga perjalanan tetap menyenangkan dan menyegarkan. Apalagi, selama perjalanan terdengar suara deburan air terjun dari kejauhan.

Legenda
Mengenai asal usul, nama Malela diambil dari nama Eyang Tadjimalela, yang menurut penduduk sekitar, ngageugeuh (menguasai) kawasan tersebut. "Bahkan, kalau sedang kebetulan, dia bisa menampakkan dirinya. Beberapa waktu lalu, ada yang ngambil foto curug. Waktu dilihat, di bawahnya ada gambar kakek-kakek berjenggot dengan baju serba putih," kata Subarna.

Aksesibilitas menjadi kendala utama yang menjadi hambatan pengembangan kawasan wisata ini. Dengan jarak sekitar 80 km arah barat daya dari pusat Kota Bandung, Desa Cicadas ini terbilang desa "paling ujung" dari Kab. Bandung Barat, yang berbatasan langsung dengan Kab. Cianjur. Untuk bisa mengunjungi desa ini dari Kota Bandung, diperlukan waktu sekitar 4 jam, dengan melewati beberapa kecamatan, yaitu Batujajar, Cililin, Sindangkerta, Gununghalu, hingga Kec. Rongga.

Jika ingin menggunakan kendaraan umum, angkutan minibus dari Cimahi atau dari Bandung bisa menjadi pilihan. Hanya saja, angkutan ini hanya bisa sampai Sindangkerta. Sisa perjalanan harus ditempuh dengan ojek serta berjalan kaki.

Selain itu, kendaraan pribadi bisa juga digunakan. Namun perlu diingat, kendaraan yang dimaksud haruslah kendaraan tinggi, bukan jenis sedan. Pasalnya, sekitar 10 km jalan menuju Desa Cicadas berada dalam kondisi rusak parah. Kendaraan itu pun hanya bisa digunakan hingga Desa Cicadas, tidak sampai Curug Malela. Kendaraan bisa dititipkan di rumah penduduk, dan perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Perjalanan menuju pusat curug berjarak sekitar 2 km, dengan medan yang sangat curam. Kendala pengembangan Curug Malela cukup kompleks, akses jalan sepanjang 12 kilometer dalam kondisi rusak berat. Lahannya pun milik Perhutani. Dari jalan umum, untuk sampai ke lokasi curuk harus berjalan kaki sepanjang hampir 1,5 kilometer dengan melewati bukit dan sawah.

uinya, akses jalan menuju Curug Malela masih membutuhkan perbaikan. Hampir 1,5 kilometer lebih jalannya masih rusak berat. Tahun ini, pemerintah baru memperbaiki sekitar 1 km. "Untuk dikembangkan sebagai objek wisata, tak hanya lokasi objek wisatanya, tapi juga akses jalannya. Kalau akses jalannya tidak memadai, wisatawan mana yang mau berkunjung ke Curug Malela," ujarnya.

Hingga kini belum ada kendaraan umum yang menuju Curug Malela. Jarak dari Kota Kec. Rongga ke Kp. Manglid sekitar 8 km. Begitu sampai di Manglid, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 2 km. "Kalau sedang musim hujan, jarak 2 km itu ditempuh dalam waktu hampir 1 jam. Lamanya perjalanan tak terlepas dari medan berat yang dilewati, seperti sawah dan naik turun bukit,

Ketiadaan penunjuk arah sejak Kota Kecamatan Gununghalu membuat kita selalu bertanya kepada penduduk yang dilalui. Memang betul malu bertanya sesat di jalan, tapi kalau terlalu banyak bertanya karena ketiadaan penunjuk arah, pengelola daerahlah yang sesat di jalan birokrasinya. Jadi setelah banyak bertanya, jalan akan mengarahkan kita ke arah Bunijaya dan berbelok ke arah kanan di daerah yang dikenal sebagai Simpang Rongga. Jalan kemudian berkelok-kelok menyempit menanjak. Sekalipun beraspal baik, tapi lubang-lubang besar membuat kelancaran perjalanan terganggu.

Di Kota Kecamatan Rongga, kita kembali dihadapkan pada persimpangan jalan dan terpaksa kembali bertanya. Jalan ke kiri yang diambil akan membawa kita ke daerah Kubang, Perkebunan teh Montaya. Jalan perkebunan asri yang diapit pohon-pohon mahoni dan damar membawa kita memasuki daerah perbukitan yang turun-naik berkelok-kelok pada jalan sempit. Beberapa kali kendaraan kita dapat langsung berhadapan pada kelokan sempit dengan kendaraan lain, atau terkejut ketika tiba-tiba pengendara ojek muncul di depan hidung kita dengan tiba-tiba.

Perjalanan dari Gununghalu ke Kubang Montaya yang hanya berjarak kurang dari 20 km terpaksa harus ditempuh antara 1,5-2 jam perjalanan kendaraan roda empat, dengan banyak bertanya. Dari Simpang Kubang ke arah Cicadas kita akan didera jalan batu yang berlubang-lubang. Perlu waktu hampir satu jam menempuh jarak pendek tidak lebih dari 3 km itu.

Sesampainya di Cicadas bukan berarti Curug Malela telah ada di depan kita. Jalan berikutnya berupa jalan perkebunan yang tidak dapat dilalui mobil biasa harus ditempuh dengan cara jalan kaki. Perlu waktu kira-kira satu jam untuk akhirnya mencapai Curug Malela setelah menuruni jalan setapak terjal dengan beberapa lereng hampir 70 derajat. Sangat melelahkan. Silakan bayangkan jalan kembali melalui rute yang sama.

Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-malela---bandung-barat

Curug Maribaya Bandung

Curug Maribaya Bandung berada di Taman Wisata Maribaya.

Maribaya Bandung adalah salah satu tempat wisata di Bandung yang memiliki sumber Mata Air Panas, taman dan juga air terjun setinggi 2,5 meter. Terletak di Timur Lembang Bandung km 8 dengan ketinggiannya mencapai 1000m dpl. Maribaya menawarkan berbagai pesona alam yang sayang untuk dilewatkan dengan panorama pegunungan yang sangat sejuk dan asri. Maribaya Bandung adalah tempat wisata yang banyak yang di kunjungi oleh keluarga, khususnya pada liburan akhir minggu.

Mata air panas di Maribaya Bandung mengandung belerang yang nyaman berenang ataupun berendam. tempat yang bagus untuk menikmati keindahan matahari saat tenggelam di ufuk barat. Dari Maribaya Bandung kita bisa ke Hutan Raya Ir. H. Djuanda(Dago Pakar) dengan berjalan kaki, merupakan hamparan hutan yang luasnya 600 hektar, harga masuk hanya Rp. 8000,. Di sini kita di manjakan dengan pemandangan Goa peninggalan Belanda dan Jepang.

Maribaya Bandung dapat dibilang merupakan sebuah taman, ahli sejarah ada yang mengatakan kalau taman Maribaya ini merupakan peninggalan sejarah pada zaman Belanda dahulu, dan menurut cerita setempat Maribaya sendiri diambil dari nama seorang wanita cantik yang banyak disukai para lelaki.

Suatu yang unik yang terdapat di Maribaya Bandung yaitu adanya sumber air panas, wisatawan dapat berendam air panas di kolam yang telah di sediakan kapanpun karena pemandian air panas di Maribaya dibuka selama 24 jam, air di kolam ini mengandung kadar mineral belerang yang tinggi lho, yang dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit :).. di pemandian air panas ini selain menyediakan kolam yang di pakai bersama, ada juga kamar – kamar mandi bagi wisatawan yang ingin privasi nya tetap terjaga..

Selain ada pemandian air panas, di Maribaya Bandung terdapat beberapa air terjun seperti Curug Cikawari, Curug Cigulung, dan Curug Cikoleang, ketiga curug tersebut bersumber dari Sungai Cigulung dan Sungai Cikawari. Diantara ke tiga curug yang ada di Maribaya pengunjung biasanya bermain air di Curug Cikawari karena dasar airnya cukup dangkal sehingga tidak bahaya bermain air disekitar curug tersebut.

Banyak tamu kami yang menggunakan jasa Bandung Tour Package dari Jacktour.com ke Maribaya Bandung hanya sekedar menghabiskan waktu liburannya dengan bersantai di sekitar Maribaya Bandung untuk berpiknik bersama keluarganya. Mereka pun memanfaatkan kuda sewaan juga untuk anak – anak yang ada di sekitar Maribaya. Disamping itu terdapat pula para pedagang makanan dan souvenir – souvenir cantik sebagai oleh – oleh Bandung.

Tak jaug dari Curug Maribaya terdapat curug yang lebih besar lagi yaitu Curug Omas, dimana untuk kesana  harus memasuki kawasan Taman Hutan Raya Juanda.

Legenda
Maribaya berasal dari nama seorang perempuan sangat cantik yang menjadi sumber kehebohan bagi kaum laki-laki. Saking terpesona oleh kecantikannya, pemuda-pemuda di kampungya sering cekcok sehingga sewaktu-waktu bisa terjadi pertumpahan darah.

Sejak mulai dikembangkan tahun 1835 oleh Eyang Raksa Dinata, ayah Maribaya, objek wisata itu berhasil mengubah kehidupan Eyang Raksa Dinata yang sebelumnya hidup miskin, menjadi berkecukupan. Banyak orang yang berkunjung ke tempat tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berekreasi menghirup udara segar alam pengunungan dan perbukitan, tetapi juga untuk berobat dengan berendam di air hangat.

Eyang Raksa Dinata yang sebenarnya hanya ingin menghindari pertumpahan darah di kampungnya, malah mendapat berkah kekayaan setelah mengelola sumber air panas mineral yang dapat dipergunakan untuk pengobatan itu. Keluarga Maribaya memperoleh penghasilan dari para pengunjung yang datang berduyun-duyun.

Lokasi


Terletak di Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS : 6° 49' 51.64" S  107° 39' 18.45" E

Aksesbilitas

Berjarak sekitar  4 Km di tenggara Lembang atau 8 km dari kota Bandung.

Sumber : https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-maribaya---bnadung-barat

Curug Omas Bandung

Curug Omas Bandung - Curug Omas berada di dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Juanda di lokasi wisata Maribaya.  Curug ini memiliki ketinggian terjunan air sekitar 30 meter dengan kedalaman 10 m yang berada di aliran sungai Cikawari.  Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintas dan melihat air terjun dari posisi atas.  Dari atas jembatan ini akan terlihat bentangan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan Cigulun yang nantinya menjadi  daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung Hulu.  Aliran ini mengalir dan berbelok membelah kawasan Tahura tersebut.  Selain Curug Omas di aliran sungai ini terdapat pula Curug Cigulung, Curug Cikoleang dan Curug Cikawari yang masing-masing berketinggian sekitar 15 m, 16 m dan 14 m. Ketiga curug ini dikenal dengan sebutan Curug Maribaya.

Di kawasan ini juga ada curug lain yaitu Curug Lalay yang lokasinya tak jauh dari Curug Omas.
 
Lokasi

Terletak di Desa Langensari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS : 6° 49' 51.64" S  107° 39' 18.45" E

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 21 km dari Bandung ke sebelah timur Lembang atau sekitar 7 km dari Lembang itu sendiri.  Untuk mencapai lokasinya cukup mudah.  Ada empat pintu masuk ke curug ini, yaitu Pintu (pos) masuk I dan II di Pakar Dago ditempuh dari arah terminal Dago. Pintu masuk III di Kolam Pakar ditempuh dari arah PLTA Bengkok atau dari Curug Dago. Sedangkan pintu masuk IV berada di Maribaya ditempuh dari arah Lembang. Umumnya Pintu masuk terdekat menuju Curug Omas ini adalah melalui Pintu IV Tahura yang juga dekat dengan lokasi wisata pemandian air panas Maribaya.

Keempat akses pintu masuk ini  bisa ditempuh oleh semua jenis kendaraan dengan kondisi jalan sudah beraspal hotmix dan dalam kondisi baik.

Sayangnya di Curug Omas ini pengunjung tidak dapat mendekat secara langsung guna menikmati kesegarannya.  Di sekitarnya terdapat pagar besi yang menutupi dan melindunginya.  Hal ini dikarenakan cukup berbahaya untuk mendekat, dimana dasar curug ini berada di bawah jembatan dengan banyak batu dan air yang keliatan dalam.  Jikalau ingin melihat curug dengan posisi lebih bawah, pengunjung dapat menuruni tanggga-tangga berbbatu yang ada di sebelah kanan jembatan.  Setelah sampai di akhir tangga, pada sebelah kanan terdapat jembatan, disini pengunujung dapat melihat curug lebih dekat.

Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas yang tersedia di kawasan ini sangat memprihatinkan.  Di sana-sini fasilitas umum dibiarkan rusak dan terbengkalai. Tidak ada perbaikan, apalagi diganti dengan yang baru.   Misalnya shelter untuk beristirahat, dibiarkan rusak. Demikian pula jalur pejalan kaki, kondisinya sudah compang-camping dan berlumut.  Tak hanya itu, jembatan penyeberangan dan pagar pengaman pun dibiarkan apa adanya, rusak dan terlepas sehingga bisa membahayakan keselamatan para pengunjung. Kondisi panggung gembira apalagi. Awalnya panggung ini dibuat untuk meramaikan objek wisata Maribaya dengan berbagai acara kesenian, namun kini tidak lagi. Kondisinya yang tidak terawat membuat orang enggan memanfaatkan panggung ini.

Kondisi memprihatinkan juga tampak di lingkungan sekitar air terjun yang dipenuhi tumpukan sampah dan limbah yang berasal dari aliran Sungai Cikapundung.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp 8.000/orang, sedangkan bagi wisatawan asing Rp 35.000/orang.  Tiket parkir kendaraan adalah Rp 10000/kendaraan roda empat dan Rp 5000 untuk klendaraan roda dua.

Wisata Lain
  1. Taman Hutan Raya Ir H Juanda dengan jarak kurang lebih 5 km. Di lokasi ini dapat melakukan kegiatan hiking menyusuri hutan.
  2. Pemandian air panas Maribaya yang alami. Di tempat ini dapat melakukan aktivitas berendam di kolam beramai-ramai atau di kamar mandi yang lebih tertutup.
Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-omas---bandung-barat

Curug Panganten Bandung

Curug Panganten Bandung - Curug Panganten berada di ketinggian 1050 m dpl dan memilki ketinggian terjunan air sekitar 50 meter dengan jatuhnya air terlihat seperti kristal berkilauan ditimpa sinar matahari.  Curug Panganten berada di wilayah wisata alam Katumiri. Tempat wisata ini berada di Jalan Raya Cihanjuang KM 5,56.

Sebelumnya Curug Panganten ini bernama Curug Manglayang, tapi karena peristiwa sesuatu yang menjadi kepercayaan masyarakat disini (sepasang penganten mati bunuh diri dengan terjun atau versi lain hanyut oleh arus curug yang deras), maka curug ini dinamakan Curug Panganten.
   
Lokasi

Terletak di Desa Padaasih, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Propinsi Jawa Barat.

Peta dan Koordinat GPS  : -6° 50' 8.00", +107° 33' 55.00"

Aksesbilitas
Berjarak sejauh kira-kira 7 km dari kota Cimahi dengan mengambil arah ke Paraongpong. Curug ini berada di ujung jalan dari perumahan dan wisata alam  Katumiri Parongpong.  Akses jalan dari perumahan menuju lokasi curug sekitar 2 km dengan melewati jalan setapak berkelok-kelok, berbatu yang licin dan becek jikalau hujan turun dengan sisi jurang dan semak belukar hingga tiba di  curug tersebut.  Untuk menuju sisi bawah curug harus menuruni tebing sekitar 30 m melewati jalan setapak yang licin.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk adalah Rp 5000 per orang.  Sebelumnya juga harus membayar tiket masuk ke area Wisata Alam Katumiri sebesar Rp 6000 per orang.

Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-panganten---bandung-barat

Curug Sigay Bandung

Curug Sigay Bandung - Curug Sigay memiliki ketinggian sekitar15 meter dan mengalir di sela-sela bebatuan Sungai Cibeureum yang menjadi batas administratif antara Kota Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.  Bebatuan tersebut berasal lava Gunung Pra-Sunda (letusan Gunung Jayagiri, kakeknya Gunung Tangkuban Perahu) yang telah mendingin.

Nama Sigay dalam bahasa Sunda berarti bambu panjang yang di antara bilah-bilahnya dibuat ceruk (titian untuk memanjat), sehingga bambu itu bisa menjadi tangga.  Biasanya bambu ini sebagai alat bantu untuk menyadap kawung atau enau.

Saat ini kondisi Curug Sigay kurang terawat, sepanjang jalur sungai Cibeureum dipenuhi sampah. Belum lagi warna air yang coklat cenderung keruh membuat pemandangan sedikit terganggu. Selain itu, sempadan sungai yang standarnya berjarak 6 meter dari tempat jatuhnya air terjun itu juga tidak diindahkan penduduk sekitar. Permukiman warga menjadi penghalang menikmati nuansa alam curug.
   
Lokasi

Terletak di belakang kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di jalan Gegerarum, Gegerkalong Girang, tepatnya di Desa Isola, Kecamatan Sukasari, Kota Bandung, Propinsi Jawa Barat.

Aksesbilitas

Ada dua alternatif jalan menuju tempat ini.  Pertama, dengan membelah kompleks Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), kemudian menyusuri permukiman padat penduduk di belakang kampus menuju Sungai Cibeureum.

Alternatif kedua melalui Jalan Gegerkalong Girang. Selepas Masjid Daarut Tauhid, ambil jalan ke kanan lewat Jalan Geger Arum, kemudian menyusuri jalan tersebut hingga ke permukiman penduduk akan berujung ke lokasi air terjun.

Untuk lebih mudahnya dapat juga masuk lewat komplek perumahan Pondok HijauI Indah yang berjarak tempuh tidak kurang 30 menit melewati jalan setapak, ladang pertanian dan pohon pinus. Setelah melewati jalan setapak, lalu menurun ke bawah menuju lembah hingga tiba di Curug Sigay.

Kondisi jalan menuju curug ini cukup licin karena masih berupa tanah, terlebih lagi jika musim hujan tiba.

Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-sigay---bandung

Curug Siliwangi Bandung

Curug Siliwangi Bandung - terletak di areal wanawisata Gunung Puntang di komplek Gunung Malabar di lahan RPH Logawa, yang dikelola BKPH Banjaran, KPH Bandung Selatan.  Adapun wanawisata ini berada di ketinggian 1.290 m dpl, dengan konfigurasi lapangan pada umumnya bergelombang dengan suhu udara 18 sampai 23 derajat Celsius dan curah hujan 2.000 hingga 2.500 mm/tahun.

Curug Siliwangi memiliki ketinggian terjunan air sekitar 100 m.

Legenda

Konon Curug Siliwangi terjadi ketika si bocah yang akhirnya dikenal dengan sebutan Prabu Siliwangi, buang air kecil dari atas Gunung Reregan.  Dan karena airnya, Curug Siliwangi diyakini mengandung tuah yang teramat sangat dan dijaga langsung oleh sang Prabu, maka tempat inilah yang di anggap paling keramat ketimbang Cipangubusan atau sumber air keramat, Geger Hanjuang tempatnya sang Prabu menghabiskan waktu istirahat dan Batu Pedang tempat dimana beliau menyimpan pedang kesayangannya.
   
Lokasi

Terletak  di kawasan Bandung Selatan, tepatnya di Desa Cimaung, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa barat.

Peta dan Koordinat GPS : 7° 7' 40.00" S  107° 38' 12.29" E

Aksesbilitas

Berjarak sekitar 30 km dari Kota Bandung ke arah selatan.  Dari areal wanawisata Gunung Puntang, Curug Siliwangi ini berjarak sekitar 3,5 km (dengan waktu tempuh sekitar 2 jam perjalanan) dengan menyusuri jalan setapak yang cukup terjal dan menyeberangi beberapa sungai yang membelah jalan (tanpa jembatan).

Untuk mencapai lokasi ini tidak begitu sulit, selain dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, juga dapat ditempuh dengan kendaraan umum.  Dari Terminal Kebon Kalapa naik bus jurusan Pangalengan, turun di daerah Cimaung, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan angdes atau ojek menuju lokasi.  Bisa juga dari Terminal Tegalega (arah M.Toha) atau Buah Batu (arah Dayeuh Kolot), naik kendaraan umum jurusan Banjaran, kemudian dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan umum menuju lokasi. Di samping itu, juga dapat ditempuh dari terminal Leuwipanjang (arah Soreang).  Naik jurusan Banjaran atau menumpang bus jurusan Pangalengan.

Bagi yang membawa kendaraan pribadi, dari pusat kota Bandung dapat melalui Soreang atau Buah Batu.  Bila melaui Buah Batu ikuti saja Jalan Raya Mochamad Toha melalui Dayeuh Kolot melewati Terminal Banjaran. Dari kota kecamatan ini, jaraknya kurang lebih sekira lima kilometer sampai di persimpangan Cimaung.  Hal yang perlu diingat, jangan lepaskan pandangan ke sebelah kiri, agar mudah melihat papan petunjuk menuju lokasi.

Fasilitas dan Akomodasi

Fasilitas yang ada antara lain Bumi Perkemahan Gunung Puntang seluas 5 Ha, parkir kendaraan yang cukup luas, MCK, Musholla dan beberapa warung yang menyediakan aneka jajanan.  Juga di kawasan ini tersedia akomodasi beberapa saung berupa pendopo untuk istirahat atau menginap bagi pengunjung yang tidak membawa perlengkapan berkemah.

Tiket dan Parkir

Tiket masuk ke kawasan ini adalah  Rp 5.000 per orang.

Wisata Lain
  1. Stasiun Pemancar Radio Malabar.  Statiun ini didirikan pada zaman pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1917-1929.  Sampai saat ini puing-puing bekas peninggalannya masih dapat ditemui, sebagai saksi sejarah.
  2. Dua buah goa yang terletak dekat Stasiun Pemancar.  Goa ini memiliki panjang sekitar 1 km dan dibuat juga oleh pemerintah Belanda pada tahun 1940.  Menurut petugas disana dulunya berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan komponen peralatan stasiun radio dan telefon.
Sumber  :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/test-1

Curug Sawer Bogor

Curug Sawer Bogor - Sesuai dengan namanya Air Terjun Bertingkat terdiri dari dua tingkatan. Letaknya sangat dekat dari air terjun Campuhan.
   
Lokasi

Ambengan, Sukasada, Indonesia

Peta dan Koordinat GPS : 8° 12' 5.20" S  115° 8' 19.29" E   

Aksesbilitas

Jika Anda mencari air terjun yang terbaik di Bali, maka pilihan terbaik adalah air terjun Gitgit di Kabupaten Buleleng. Ini 45-meter adalah air terjun yang tinggi dapat disangkal air terjun terbesar di Bali dan air terjun Gitgit tidak hanya menawarkan Anda salah satu air terjun, tetapi tiga, air terjun kedua dapat ditemukan di sepanjang jalan menuju air terjun ketiga. Anda harus mengambil pemandangan kenaikan 2 km menanjak dari jatuh utama untuk mencapai air terjun ketiga.  Gitgit Air terjun yang terletak di dekat perbatasan Kabupaten Buleleng dan Tabanan, sekitar 11 km di selatan Singaraja, dekat kawasan Bedugul. Pintu masuk ke air terjun ini ditandai dengan tanda kecil di sisi jalan. Untuk mencapai air terjun Anda harus berjalan jalan tanah yang sempit, berderet dengan kios Souvenir dan minuman, tetapi di luar kios-kios ini, lingkungan hijau siap untuk menenangkan mata Anda.

Air Terjun Bertingkat

Berhenti diReklame air terjun Gitgit, memarkir motor dan untuk mencapai air terjun harus turun kebawah lembah,  jalurnya  mudah karena sudah dijadikan tempat wisata dan karena masih pagi terlihat sepi. Disini ada 3 objek yang bisa dinikmati air terjun Gitgit, Goa Batu dan Air terjun Mekalongan. Pada air terjun Gitgit yang dalam bahasa balinya berarti kembar letaknya dimulut goa, tidak terlalu tinggi namun cukup deras, dikatakan kembar mungkin karena 2 air terjun  berdampingan, ditengah2nya terpasang tali tambang keliatannya dipakai untuk bermain tarzan2an. Lanjut kita menuju Goa Batu agak keluar sedikit namun tidak bertemu dengan yang dimaksud, hingga terlebih dahulu menemukan air terjun Mekalongan yang rupanya limpahan sungai dari air terjun Gitgit, air terjun ini lebih deras dan tinggi bisa dilhat dari jurang yang ada membentur batu kali. Dari sini sungai yang mengalir cikal bakal sungai Buleleng diSingosari. Selesai dari sini kembali kejalan awal namun menemukan jalan ke goa Batu yang letaknya tersembunyi dan harus menaiki jalur tangga, begitu meihat goanya ukuran mulutnya kecil dan ada diatas bukit alhasil sedkit memanjat batu2 yang mengeluarkan air, tidak tau berapa dalam karena sulit untuk dimasuki disamping terlalu kecil dinding atapnya.

Sumber :  https://sites.google.com/site/wisataairterjun/jawa-barat/curug-sawer---bogor